Lereng Gunung Slamet Menguning Cokelat Setelah Eksplorasi PLTP, Penghijauan 28 Ribu Pohon Mendesak Dilakukan
Jangkauan Jakarta Pusat — lereng Gunung Slamet kembali menjadi sorotan setelah area yang sebelumnya hijau lebat kini tampak menguning kecokelatan akibat aktivitas eksplorasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Perubahan warna vegetasi ini memicu kekhawatiran masyarakat dan pemerhati lingkungan terkait dampak jangka panjang terhadap ekosistem gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut.
Eksplorasi PLTP dan Perubahan Lanskap
Aktivitas pembukaan lahan untuk pengeboran dan pembangunan infrastruktur PLTP jelas terlihat dari menurunnya tutupan vegetasi di beberapa titik lereng. Area yang dulunya dihiasi pepohonan rapat kini berubah menjadi zona terbuka, menyisakan tanah cokelat yang rentan terhadap erosi.
Pemerhati lingkungan menilai bahwa perubahan ini bukan hanya masalah estetika, tetapi juga ancaman bagi:
Sumber air yang berada di bawah kawasan hutan,
Keamanan lereng karena meningkatnya risiko longsor,
Keanekaragaman hayati, termasuk flora dan fauna endemik Gunung Slamet.
“Gunung Slamet adalah penyangga ekologi penting. Jika tutupan hutan berkurang, maka dampaknya akan terasa hingga ke desa-desa di kaki gunung,” ujar seorang aktivis lingkungan setempat.
Baca Juga: Dikritik Lempar Bantuan dari Helikopter Bobby Daerah Terisolir
Dibutuhkan Penghijauan Besar-Besaran 28.000 Pohon
Sebagai langkah perbaikan, pemerintah daerah bersama sejumlah lembaga konservasi menilai bahwa Gunung Slamet membutuhkan minimal 28 ribu pohon untuk memulihkan kawasan terdampak eksplorasi.
Pohon damar
Puspa
Pinus lokal
Akasia gunung
Berbagai tanaman bawah yang dapat menjaga kelembapan tanah
“Kami tidak menolak pembangunan energi bersih. Tetapi harus seimbang dengan pemulihan ekologi. Reboisasi skala besar adalah syarat utama,” kata seorang pejabat Dinas Lingkungan Hidup Banyumas.
Lereng Gunung Slamet Dampak Sosial dan Lingkungan
Warga desa di sekitar lereng juga mulai merasakan efek awal dari penurunan tutupan vegetasi. Beberapa sumber mata air mulai mengecil, sementara hujan deras menyebabkan aliran air lebih kencang dari biasanya.
“Gunung Slamet ini ibu bagi kami. Kalau hutan rusak, desa juga akan ikut menderita,” ujar seorang warga Desa Gambuhan.
Perlu Pengawasan Ketat ke Depan
Para ahli meminta pemerintah memperketat pengawasan terhadap aktivitas pembangunan PLTP agar kerusakan hutan tidak meluas.





